Sejarah Keunikan Trofi Piala Dunia Sepanjang Masa

Posted on

Salah satu hal yang menarik dalam gelaran Piala Dunia, selain pertandingannya adalah juga mengenai trofi yang diperebutkan. Trofi yang terbuat dari emas padat ini memang menjadi simbol kejayaaan dalam dunia sepak bola. Siapapun tim yang berhasil menjadi juara tentunya bangga ketika dapat mengangkat piala ini dan mempersembahkannya untuk negara serta mengukuhkan tim mereka sebagai yang terbaik.

Sesuai kesepakatan FIFA setiap negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia 2018 memang berhak membawa trofi yang asli ini, namun bukan untuk selamanya, melainkan hanya untuk beberapa waktu saja. Kemudian mereka akan diberikan replika piala yang berlapis emas. Saat ini, trofi Piala Dunia memang ada dua bentuk yaitu Jules Rimet dan yang sekarang ini.

tropi piala dunia 2018

Mempelajari Sejarah Trofi Piala Dunia

Trofi Pertama

Piala Dunia pertama kali digelar di Uruguay pada tahun 1930. Pada saat itu, trofi yang digunakan berbeda dengan yang sekarang ini kita kenal. Pada waktu itu trofi tersebut memiliki berat 3,8 kg dan tingginya sekitar 35 cm. Perbedaan selanjutnya juga terlihat dari desain. Trofi pertama terinspirasi dari Nike, seorang dewi kemenangan dari mitologi Yunani.

Sosok seorang wanita bersayap layaknya peri yang sedang memikul cawan adalah bentuk dari trofi pertama. Pada bagian bawah trofi terdapat daftar nama negara yang menjadi pemenang Piala Dunia. Trofi pertama dibuat dari perak murni yang kemudian dilapisi dengan emas. Untuk dasar bitu-nya dibuat menggunakan batu lapis lazuli.

Trofi yang sebenarnya diberi nama Victory ini didesain oleh Abel Lafteur, seorang seniman asal Perancis. Pada perkembangannya trofi ini lebih dikenal dengan nama “Coupe du Monde” atau “World Cup”. Pergantian nama trofi terjadi pada tahun 1946. Pengambilan nama baru tersebut berdasarkan nama dari presiden FIFA, Jules Rimet, yang menjabat dari tahun 1921 sampai 1954.

Pada tahun tersebut, pemimpin asal Perancis tersebut juga mengeluarkan aturan baru yang lebih rumit, yang nantinya akan diterapkan pada Piala Dunia tahun 1950. Pada era tersebut, semua tim sebelum bisa berlaga pada putaran final harus lolos kualifikasi terlebih dahulu. Untuk kali pertama juga, sistem grup diterapkan di Piala Dunia untuk putaran final.

Rimet juga menetapkan aturan mengenai pemberian trofi secara permanen kepada negara yang menjadi juara Piala Dunia sebanyak tiga kali. Brazil adalah negara pertama yang menerima trofi secara permanen. Negara lain yang pernah memegang trofi awal ini adalah Uruguay disusul Italia, Jerman Barat serta Inggris.

Jules Rimet Menghilang Selamanya

Walaupun sudah mendapatkan pengamanan yang ketat, piala ini sempat menghilang sebanyak dua kali trofi tersebut akan dipajang guna persiapan Piala Dunia Inggris 1966 lalu. Uniknya, fakta yang berhasil menemukan trofi tersebut adalah seekor anjing bernama Pickles. Sebagai penghargaan, Pickles dan pemiliknya mendapatkan hadiah berupa uang sebesar 6 ribu poundsterling.

Kejadian kehilangan kedua sebenarnya adalah sebuah unsur kesengajaan, namun motif di baliknya murni hanya untuk menghindari pencurian trofi oleh musuh yang masuk ke wilayah Italia karena Perang Dunia II sedang berlangsung. Kala itu, Ottorino Barassi, mendiang wakil presiden FIFA, menyembunyikan Jules Rimet di dalam kotak sepatu miliknya. Kemudian kotak tersebut diletakkan di bawah kasurnya.

Namun sayangnya, untuk yang ketiga kalinya Jules Rimet harus hilang dan kali ini trofi legendaris tersebut sudah hilang selama-lamanya tepatnya pada 20 Desember 1983. Disinyalir trofi yang kala itu ditempatkan di kantor Federasi Sepakbola Brasil (CBF) di Rio de Janeiro, hilang dicuri.

trofi piala dunia

Mahakarya Silvio Gazzaniga

Seperti yang sudah disinggung di atas, trofi Jules Rimet berhasil dimiliki secara permanen oleh Brazil, walaupun akhirnya harus hilang dicuri. Karena itulah FIFA akhirnya memutuskan untuk membuat kembali trofi baru dengan mengadakan sayembara desain yang ditujukan pada seluruh seniman di seantero dunia. Perlombaan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Silvio Gazzaniga, seorang seniman Italia.

Trofi mahakarya dari Gazzaniga tersebut akhirnya dipakai hingga sekarang ini. Walaupun desainnya sederhana, namun sudah sangat mewakili filosofi dari piala dunia yang mengobarkan semangat. Trofi tersebut memiliki berat 6,175 kg serta tinggi 36,8 cm dan terbuat dari emas 18 karat dengan dasarnya terbuat dari dua lapis semi perunggu.

Produsen trofi adalah perusahaan trofi dan medali asal Italia, GDE Bertoni. Mahakarya Gazzaniga diklaim terbuat dari emas berkadar 18 karat. Bagian dasarnya terdiri dari dua lapis semi perunggu. Dan spesifikasi itu sudah diverifikasi oleh ahli kimia asal Inggris, Martyn Poliakoff.

Hingga sekarang, Ganzzaniga diketahui masih hidup. Saat ini sang seniman telah menginjak usia yang 92 tahun. “Sang pencipta tidak bisa diikutsertakan dalam tur ini. Dia sudah sangat tua dan tidak mungkin melakukan perjalanan jauh berkeliling ke 90 negara,” ujar Gazda.